HEADLINE
latest
berita
randomposts3
berita/block-1

MUSLIMAT NU

MUSLIMAT NU/block-5

GP ANSOR NU

GP ANSOR NU/block-6

FATAYAT NU

FATAYAT NU/block-6

IPNU

IPNU/block-6

IPPNU

IPPNU/block-6

PMII

PMII/block-6

PS PAGAR NUSA

PS PAGAR NUSA/block-6

ISNU

ISNU/block-6

PERGUNU

PERGUNU/block-6

SARBUMUSI

SARBUMUSI/block-8

JQH

JQH/block-8

LDNU

LDNU/block-5

LP MA’ARIF NU

LP MA’ARIF NU/block-2

RMINU

RMINU/block-2

LPNU

LPNU/block-2

LPPNU

LPPNU/block-2

LKKNU

LKKNU/block-2

LAKPESDAM NU

LAKPESDAM NU/block-2

LPBHNU

LPBHNU/block-5

LESBUMI NU

LESBUMI NU/block-2

LAZISNU

LAZISNU/block-2

LWPNU

LWPNU/block-2

LBMNU

LBMNU/block-2

LTMNU

LTMNU/block-2

LKNU

LKNU/block-2

LFNU

LFNU/block-2

LTNNU

LTNNU/block-2

LPBI NU

LPBI NU/block-2

LKQNU

LKQNU/block-2

LPKPNU

LPKPNU/block-5

Latest Articles

Madrasah/Sekolah di Lingkungan LP Ma'arif NU Kudus



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Mejobo



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Undaan



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Jekulo



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Kota



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Kaliwungu



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Gebog



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Jati



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Bae



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Dawe






Menegaskan Makna Puasa

 


Menegaskan Makna Puasa

Oleh: Ahmad Fatah


Puasa Ramadhan adalah salah satu pilar dalam Islam. Sebagai salah satu rukun Islam, puasa memiliki peran penting bagi umat Islam. Puasa Ramadhan tidak sekedar sebagai rutinitas ritual dan kewajiban, tetapi memiliki makna dan tujuan untuk penghambaan diri kepada Allah serta memiliki kebermaknaan sosial. Puasa juga tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, namun puasa merupakan suatu ibadah yang mulia, yang pahalanya hanya Allah yang membalasnya. Selain itu puasa merupakan ibadah fisik dan mental.

Esensi puasa adalah pengendalian diri. Secara fisik pengendalian tersebut dapat terwujud dalam bentuk pengendalian pola makan yang baik. Tubuh manusia memiliki mekanisme alamiah yang digunakan untuk mangatasi kondisi-kondisi yang tak diinginkan, agar tetap dalam kondisi normal. Mekanisme alamiah ini disebut sebagai homeostatis. Dalam keadaan puasa selama kurang lebih tigabelas jam tubuh tidak mendapatkan suplai makanan, akan tetapi tubuh tetap bertahan. Ini disebabkan tubuh masih memiliki cadangan energi yang berasal dari karbohidrat yang disimpan dalam bentuk glikogen yang mampu bertahan sampai duapuluh lima jam. Dengan demikian, mereka yang berpuasa jangan khawatir menjadi sakit karena memiliki mekanisme alamiah untuk mempertahankan dirinya. Masa puasa ini cukup untuk membersihkan makanan yang tertimbun dalam usus besar dan memberikan kepada usus besar untuk beristirahat dari proses pencernaan. Hal ini, sangat jelas bahwa dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda yang artinya: ”berpuasalah niscaya kamu akan sehat” (HR. Thabrani). Ada salah satu riset dalam buku The Miracle of Fasting karya Paul C. Bragg dan Patricia Bragg menjelaskan bahwa: Fasting is an effective and safe method of detoxifying the body – a technique that wise men have used for centuries to heal the sick. Ternyata puasa juga sebagai cara yang efektif dan aman untuk detoksifikasi atau pengawaracunan dalam tubuh, cara ini juga telah digunakan orang berabad-abad untuk menyembuhkan orang sakit.

Selain secara fisik, puasa hakikatnya adalah mendidik manusia agar memiliki pengendalian diri dari nafsu dan sifat buruk, baik sifat bahimiyyah, sabu`iyyah maupun syaithoniyyah. Puasa juga dapat meningkatkan penghayatan dan pengamalan agama. Kondisi makan dan minum yang halal saja di tahan dan dikendalikan, apalagi berbuat dosa dan maksiat. Sehingga kondisi seperti ini dapat melatih seseorang untuk berempati dan simpati, sekaligus melatih dan mendidik agar tidak konsumtif dan tidak hedonis. Hal inilah yang melatih dan membentuk kesadaran manusia. Dari kesadaran bertindak positif itu terbentuklah mental dan karakter yang kuat. Sekaligus mampu menjadi filter dari penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, pendendam dan lain sebagainya. Nilai-nilai spiritualitas yang positif inilah yang sebenarnya perlu di pahami, di hayati dan di laksanakan. Agar puasa tidak hanya sekedar sebagai ibadah fisik dan rutinitas ritual saja, tetapi mampu melatih dan membentuk jiwa yang sehat.

Tujuan puasa adalah agar mencapai taqwa. Hal ini sesuai firman Allah dalam Alquran QS. al-Baqarah 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. Hampir tiap tahun kita menjalankan puasa, tapi belum memahami hakikat taqwa dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan.

Taqwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Secara harfiah taqwa berasal dari kata waqaa, yaqii wiqaayah yang berarti memelihara menjaga dan lain sebagainya. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti: hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah. Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dilaksanakan oleh makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhiNya, sedangkan Dia bersama kamu dimanapun kamu berada. Oleh karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertaqwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui siksa Allah ada dua macam:

1.    Siksa didunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkanNya berlaku dialam raya ini. Misalnya: makan berlebihan dapat meninbulkan penyakit, tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan terhadap bencana, atau api panas dan membakar, dan hukum-hukum alam dan masyarakat lainnya.

2.    Siksa diakhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkanNya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT.

Atas dasar pemaparan tentang taqwa tersebut, takwa dapat diklasifikasikan. Pertama, menghindar dari sikap kufur dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah sejauh kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, menghindar dari segala aktifitas yang menjauhkan pikiran dari Allah. Inilah tingkatan upaya menghindar yang tertinggi. Wallahu A`lam bish Showab.

 

Marhaban Ya Ramadhan

 





Ngaji Ba'da Tarawih


 

Tips Khataman Al-Qur'an Selama Ramadhan

 


Kepakaran Kilat Menjadi Kurang Terhormat

 

Kepakaran Kilat Menjadi Kurang Terhormat

Judul     : Saring sebelum Sharing

Pengarang     : Nadirsyah Hosen

Penerbit     : PT Bentang Pustaka

ISBN     : 978-602-291-562-1

Tahun Terbit     : 2019

Dimensi Buku     : Berat 0.3 Kg, Jumlah halaman 344

Harga Buku     : Rp. 50.000, 00



Dewasa ini, Dunia telah mengalami dinamika perkembangan dalam hak berbicara dan mengekspresikan diri. Terbukanya akses atau kesempatan bagi setiap orang yang ingin bersuara. Terlebih bagi negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia, memberikan angin segar kepada warganya untuk menyuarakan pendapatnya. Istilah tersebut terkenal dengan Freedom of speech. Jadi setiap warga negara mempunyai hak untuk ikut menyalurkan gagasan yang ada pada dirinya. Hanya saja hal tersebut menjadi kurang tertata rapi bahkan mengkhawatirkan jika tidak diimbangi dengan gagasan yang berdasar. Hal ini yang sedang terjadi di Indonesia khususnya, banyak orang dalam berbicara, berpendapat hingga memutuskan tidak melalui tahap verifikasi secara komprehensif. Seolah-olah mereka adalah pakar di bidangnya. Dengan hal tersebut, Nadirsyah Hosen membuat buku yang berjudul “Saring sebelum sharing” yang diawali dari fenomena ketergesaan orang dalam berbicara ataupun menjelaskan ke orang lain, seolah-olah mereka adalah pakar dalam bidanganya. Padahal mungkin mereka hanya menggunakan satu sumber, yang itu membutuhkan sumber lain sebagai bahan pertimbangan untuk mengeluarkan pendapat. Buku ini cukup banyak diminati banyak orang semenjak launchingdi tahun 2019. Karena materinya yang kuat serta pembawaan yang santai seperti novel menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga buku ini cocok untuk dijadikan bacaan bagi seorang akademisi maupun masyarakat umum.

Buku ini menjelaskan betapa perlunya data yang kuat serta komprehensif dalam memahami suatu persoalan. Pemahaman yang baik dapat dilakukan dengan belajar secara mendalam, seperti memahami suatu Hadits tidak hanya sebatas tahu makna dan perawinya semata, melainkan juga makna dan kualitas dari Hadits tersebut. Selain itu, dalam buku ini penulis memberikan penjelasan kepada pembaca sekaligusbantahan kepada kelompok yang selalu memuja hadits sahih dan mengenyampingkan kualitas hadits yang lain dalam peribadatan. Karena menurut penulis penetapan hadits sahih atau tidak tergantung kepada ulama yang menyatakannya. Sebagai contoh hadits tentang perbedaan jumlah adzan subuh, ada yang mengatakan satu kali adapula yang mengatakan dua kali. Perbedaan tersebut terdapat ulama yang men-sahihkan dan adapula men-dhaifkan. Penulis memberikan contoh tersebut beracuan pada ada kitab Sabul Assalam dan Bidayah Al Mujtahid. Melihat contoh tersebut, penulis ingin memberikan gambaran kepada pembaca bahwa pemahaman sebuah hadits tidak dapat diambil satu referensi semata, melainkan memerlukan referensi yang lain untuk dijadikan pertimbangan hukum. Tentunya dalam memahami hadits yang baik, penulis menyarankan untuk meminta bimbingan oleh ulama atau guru. Karena ini sebagai bentuk hirarki pembelajaran agama yang berdasar, selain itu sebagai bantahan kepada kaum salafi yang berpendapat setiap orang dapat memahami al-Quran dan Hadits tanpa perantara guru.

Menariknya dalam buku ini, selain terdapat penjelasan yang mendalam tentang ilmu hadits, terdapat penjelasan yang kontekstual dan bersifat moderenitas persoalannya. Hal tersebut mengenai media sosial. Seperti yang kita ketahui, media sosial merupakan tempat kedua manusia setelah dunia nyata yang dapat terjadi interaksi satu sama-lain. Semua orang dapat menyuarakan pendapatnya ke muka umum. Tidak jarang terdapat orang dalam menyurakan pendapatnya tanpa melakukan verifikasi kekuatan informasi yang akan disampaikan. Parahnya kalau pendapat dibumbui dengan cara yang kasar dan diikuti oleh orang lain. Sehingga itu akan terjadi degradasi akhlak secara masal. Pada buku ini, penulis memberikan contoh fenomena yang terjadi di media sosial yang menggambarkan tindakan tidak manusiawi seperti mempermalukan orang lain di ruang publik, menuduh orang lain salah dan dia yang paling benar hingg melabeli orang dengan istilah kafir. Ini merupakan bentuk dari kepakaran kilat yang hanya memandang suatu persoalan dari satu sudut pandang semata, terlebih di hati mereka diselimuti kebencian. Sehingga terjadilah keributan di medsos diakibatkan kurang arifnya dalam belajar agama. 

Melihat fenomena tersebut dalam buku ini sangat penting untuk dijadikan sebagai bahan bacaan. Karena secara tersirat buku ini menjelaskan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai sistem kontrol dalam berperilaku. Selain data yang disajikan dalam buku ini cukup lengkap, penulis juga memberikan kerangan referensi kitab ketika menjelaskan hadits atau ayat al-Qur’an. Lebih penting daripada itu, pembawaan yang epic oleh penulis dalam merangkai kata menjadikan buku ini terlihat ringan dan santai saat membacanya. Jadi tidak kaku ataupun monoton. Namun sayangnya di dalam buku ini kurang adanya info grafis atau visual dalam penyajian informasinya. Jadi bagi seseorang yang tidak terlalu suka bentuk tulisan, akan menyusahkan mereka dalam memahami isi bacaan buku tersebut. Karena menurut penelitian membuktikan gaya belajar secara visual lebih diminati banyak orang, yaitu sekitar 42, 86% (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Katulistiwa). 

Penulis Resensi :

Muhammad Syihabuddin

Santri Pondok Pesantren Al-A’la Jepara


Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1442 H

 Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1442 H



Mentradisikan Istighatsah Sebagai Sarana Taqarrub



Judul Buku : Sejarah dan Keutamaan Istighatsah
Pengarang : Drs. K.H. Ishomuddin Ma’shum, M.Pd.I
 Penerbit         : LTN Pustaka, Jl. Masjid Akbar Timur No. 9 Surabaya
Tahun Terbit : 2018
Cetakan         : 1, Februari 2018
Tebal Buku : 124 Halaman +Cover
Ukuran Buku : 14,8 x 21 cm
ISBN : 978-602-50207-3-5
Harga Buku : 28.000 (harga bisa berubah)

KH Ishomuddin ma’shum adalah sorang penulis profesional, sejak tahun 1990 ia mengabdikan dirinya untuk berkarya lewat jari-jemarinya, karyanya berupa buku-buku pengetahuan kurang lebih ada 40 buku yang sudah diterbitkan sampai sekarang.

Resensi buku yang akan saya sajikan berikut adalah salah satu karya beliau “Sejarah dan Keutamaan Istighatsah” sebuah karya monumental dari bapak yang sekarang menjabat sebagai ketua Jama’ah Thariqah Mu’tabarah Qodiriyah wa Naqsabandiyah Pasuruan.

Buku ini sangatlah unik, buku ini bukan seperti buku-buku yang menjelaskan akan doa-doa saja sebagaimana buku pada umumnya. Namun, buku ini akan mengupas secara mendalam tentang isi doa yang mungkin bisa kalian hikmahnya.

Kesan saya setelah membaca isi buku ini adalah meski hanya beberapa yang saya jadikan wirid, tapi itu sangatlah bermanfaat bagi saya, dan mungkin juga kepada masyarakat Nahdliyyin pada umumnya. 

Kalau kalian bagaimana kesan setelah membaca buku ini?

Masalah yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah konflik antar agama, atau antar suku, tapi yang paling dominan malah dari Islam sediri, tak bisa dipungkiri banyak ormas satu degan ormas lainnya saling sikut jika tidak sesuai dengan “kebenaran” menurut versinya sendiri.

Hal ini menjadikan polemik ditengah masyarakat, pasalnya masih banyak masyarakat awam yang memerlukan contoh dan tuntunan ke jalan yang benar. 

Nahdlatul Ulama’ sebagai Ormas keagamaan terbesar melalui para kadernya melakukan gerakan secara masif pembukuan sebuah buku sebagai serana dakwah kepada masyarakat lewat Lembaga ta’lif Wan Nasyr (LTN NU) yang tersebar diberbagai daerah.

Salah satu tradisi yang dipengang teguh oleh Nahdlatu Ulama’ adalah istighatsah, Mengutip dari situs NU online Istighatsah disini bermakna “ meminta pertolongan ketika dalam keadaan sukar dan sulit”. meskipun ada kelompok yang menolak tradisi Istighatsah, NU dengan gencarnya mentradisikan Istighatsah sebagai sarana taqarrub kepada Allah, di era yang mana iman semakin menipis ini.

Buku sejarah dan keutamaan Istighatsah adalah bukti untuk menjawab sekaligus jalan untuk lebih mendekatan diri lagi kepada sang pencipta Allah SWT. 

Buku Ini juga memiliki beberapa bab dan di setiap babnya memiliki fokus materi tersendiri misalkan, pada bab dua mengenai disajikan tata cara dan Awrad Istighatsah, Kemursyidan dan masih banyak lagi. Buku ini dibuat sebagaimana tujuan penulis buku ditujukan kepada para pembaca agar lebih mengenal dan lebih mendalami seputar isi daripada Istighatsah.

Jadi, buku ini dibuat agar kita tahu sejarah  dan keutamaan daripada Istighatsah karena mengetahui hal itu sangatlah penting dalam mengamalkan suatu wirid agar memiliki ikatan dan dapat memperkuat kemantapan.

Dikutip dari buku tersebut " seseorang yang memiliki banyak wirid akan menjadi tentram hatinya karena buah dari halawatul iman"

Kelebihan Buku :

Dapat membuat para pembaca berlarut dalam bermunajat. Bahasanya pun mudah dipahami, karena penyertaan arti kata yang berbahasa arab. Begitu juga dengan Cover yang sagat elegan penuh warna hijau yang menambah nuansa ke-NU-an rekat didalamnya.

Kekurangan Buku:

Meski banyak keunggulannya, tapi skala prioritas masyarakat masih menggunakan kitab asli (tanpa terjemahan) dalam pengamalan Istighatsahnya, seperti Wird Al-Lathif, Rotib Al-Haddad, Rotib Al-Athos, Hizb Nasyr, ataupun yang lainnya.

Si Penulis membuat buku ini bukan tanpa alasan, Selama ini, pada kenyataannya masih banyak diantara kita yang belum mengenali Istighatsah yang kita baca, atau tidak sedikit dari kita yang mengamalkan Istighatsah tapi tidak tahu maksud dan artinya, apalagi terkait sejarah dan keutamaannya. Dari situlah penulis berniat mengabdikan dirinya hingga terbit buku ini. 

Buku ini ditujukan kepada pembaca, yakni masyarakat umum, baik  Nahdliyyin ataupun yang bukan.

Penulis Resensi

Mohammad Cholil Alwi 

Pondok Pesantren Al-Ma'rufiyyah_Kudus