HEADLINE
latest
berita
randomposts3
berita/block-1

MUSLIMAT NU

MUSLIMAT NU/block-5

GP ANSOR NU

GP ANSOR NU/block-6

FATAYAT NU

FATAYAT NU/block-6

IPNU

IPNU/block-6

IPPNU

IPPNU/block-6

PMII

PMII/block-6

PS PAGAR NUSA

PS PAGAR NUSA/block-6

ISNU

ISNU/block-6

PERGUNU

PERGUNU/block-6

SARBUMUSI

SARBUMUSI/block-8

JQH

JQH/block-8

LDNU

LDNU/block-5

LP MA’ARIF NU

LP MA’ARIF NU/block-2

RMINU

RMINU/block-2

LPNU

LPNU/block-2

LPPNU

LPPNU/block-2

LKKNU

LKKNU/block-2

LAKPESDAM NU

LAKPESDAM NU/block-2

LPBHNU

LPBHNU/block-5

LESBUMI NU

LESBUMI NU/block-2

LAZISNU

LAZISNU/block-2

LWPNU

LWPNU/block-2

LBMNU

LBMNU/block-2

LTMNU

LTMNU/block-2

LKNU

LKNU/block-2

LFNU

LFNU/block-2

LTNNU

LTNNU/block-2

LPBI NU

LPBI NU/block-2

LKQNU

LKQNU/block-2

LPKPNU

LPKPNU/block-5

Latest Articles

Khutbah Jumu'ah Pandemi I

Khutbah Jumu'ah Pandemi I
LEMBAGA DAKWAH PCNU KABUPATEN KUDUS


   




INSTRUKSI DARURAT COVID-19 DI KUDUS

 INSTRUKSI DARURAT COVID-19 DI KUDUS






Khutbah Idul Fitri 1442 H

 

Khutbah Idul Fitri 1442 H






download


Budaya Tongtek sebagai Khasanah Merawat Islam Santun

  


Izinkan ayah izinkan ibu

Relakan kami pergi berjuang

Di bawah kibaran bendera NU

Majulah ayo maju serba serbu (serbu)

Tidak kembali pulang

Sebelum kita yang menang

Walau darah menetes di medan perang

Demi agama ku rela berkorban


Larik demi larik lirik Mars Banser dilantunkan hingga habis oleh kelompok tongtek PAC GP Ansor Kaliwungu. Bukan dengan alat musik elektronik, lagu kebanggaan Banser itu diiringi alat musik tradisional.

Pukulan para pemain tongtek ke alat ritmis seperti kentongan, hingga perkusi itu rancak. Cukup membahana ke seisi ruang Gedung Graha Idola, Gebog pada Sabtu (1/5/2021). Para personel yang tampil dengan kaos banser itu dibilang cukup energik hingga akhir perform.

Seolah tak mau kalah, kelompok dari PAC GP Ansor Kota pun juga tampil penuh semangat. Kali ini mereka membawakan Yalal Wathan.

Beat yang dihasilkan dari gebukan snare drum berhasil membuat penonton manggut-manggut. Terbawa semangat lagu Ya Lal Wathan.

Bahkan, ada yang turut terbawa suasana, sejumlah suporter berdiri di barisan tempat duduk penonton. Para suporter turut bernyanyi, menngangkat kedua tangan, lalu memberikan tepukan.

Selain dua kelompok tersebut, sedikitnya ada 10 lagi kelompok musik tongtek yang akan dan sudah tampil bergiliran. Mereka berasal dari tiap kecamatan yakni Jati, Undaan, Mejobo, Bae, Jekulo, Dawe dan Gebog.

Menurut pengurus PC NU Kudus Agus Hari Ageng tongtek merupakan budaya dari momentum Ramadan. Budaya tongtek tumbuh dan berkembang untuk syiar Islam, memberikan energi semangat bagi pemeluk Islam yang menjalan puasa.

“Dalam dinamikanya tongtek terkadang diwarnai hal negatif seperti tawuran. Dengan even tongtek Ansor Kudus ini dapat memberikan edukasi agar budaya ini berlangsung baik,” tutur Ageng.

“Diaharapkan pula Ansor melalui even tongtek mampu mewadahi dan mencounter tak timbul yang kurang sesuai dengan kultur dan nilai positif,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Dasa Susila menyampaikan, Ansor sebagai generasi muda menjadi pelopor nguri2 budaya tradisional. Dengan festival tongtek budaya lokal terus lestari dan berkembang.

“Tongtek merupakan cara syiar Islam yang santun dan ramah,” katanya.

Banyak budaya kerifan lkkal lainnya di kampung-kampung. Misalnya, hikayat, sedekah bumi dan masih banyak lainnya Para pemuda, lanjut dia, sudah menjadi kewajiban untuk turut merawatnya. (MS/AR)

Madrasah/Sekolah di Lingkungan LP Ma'arif NU Kudus



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Mejobo



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Undaan



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Jekulo



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Kota



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Kaliwungu



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Gebog



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Jati



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Bae



Madrasah/Sekolah di  LP Ma'arif NU Kecamatan Dawe






Menegaskan Makna Puasa

 


Menegaskan Makna Puasa

Oleh: Ahmad Fatah


Puasa Ramadhan adalah salah satu pilar dalam Islam. Sebagai salah satu rukun Islam, puasa memiliki peran penting bagi umat Islam. Puasa Ramadhan tidak sekedar sebagai rutinitas ritual dan kewajiban, tetapi memiliki makna dan tujuan untuk penghambaan diri kepada Allah serta memiliki kebermaknaan sosial. Puasa juga tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, namun puasa merupakan suatu ibadah yang mulia, yang pahalanya hanya Allah yang membalasnya. Selain itu puasa merupakan ibadah fisik dan mental.

Esensi puasa adalah pengendalian diri. Secara fisik pengendalian tersebut dapat terwujud dalam bentuk pengendalian pola makan yang baik. Tubuh manusia memiliki mekanisme alamiah yang digunakan untuk mangatasi kondisi-kondisi yang tak diinginkan, agar tetap dalam kondisi normal. Mekanisme alamiah ini disebut sebagai homeostatis. Dalam keadaan puasa selama kurang lebih tigabelas jam tubuh tidak mendapatkan suplai makanan, akan tetapi tubuh tetap bertahan. Ini disebabkan tubuh masih memiliki cadangan energi yang berasal dari karbohidrat yang disimpan dalam bentuk glikogen yang mampu bertahan sampai duapuluh lima jam. Dengan demikian, mereka yang berpuasa jangan khawatir menjadi sakit karena memiliki mekanisme alamiah untuk mempertahankan dirinya. Masa puasa ini cukup untuk membersihkan makanan yang tertimbun dalam usus besar dan memberikan kepada usus besar untuk beristirahat dari proses pencernaan. Hal ini, sangat jelas bahwa dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda yang artinya: ”berpuasalah niscaya kamu akan sehat” (HR. Thabrani). Ada salah satu riset dalam buku The Miracle of Fasting karya Paul C. Bragg dan Patricia Bragg menjelaskan bahwa: Fasting is an effective and safe method of detoxifying the body – a technique that wise men have used for centuries to heal the sick. Ternyata puasa juga sebagai cara yang efektif dan aman untuk detoksifikasi atau pengawaracunan dalam tubuh, cara ini juga telah digunakan orang berabad-abad untuk menyembuhkan orang sakit.

Selain secara fisik, puasa hakikatnya adalah mendidik manusia agar memiliki pengendalian diri dari nafsu dan sifat buruk, baik sifat bahimiyyah, sabu`iyyah maupun syaithoniyyah. Puasa juga dapat meningkatkan penghayatan dan pengamalan agama. Kondisi makan dan minum yang halal saja di tahan dan dikendalikan, apalagi berbuat dosa dan maksiat. Sehingga kondisi seperti ini dapat melatih seseorang untuk berempati dan simpati, sekaligus melatih dan mendidik agar tidak konsumtif dan tidak hedonis. Hal inilah yang melatih dan membentuk kesadaran manusia. Dari kesadaran bertindak positif itu terbentuklah mental dan karakter yang kuat. Sekaligus mampu menjadi filter dari penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, pendendam dan lain sebagainya. Nilai-nilai spiritualitas yang positif inilah yang sebenarnya perlu di pahami, di hayati dan di laksanakan. Agar puasa tidak hanya sekedar sebagai ibadah fisik dan rutinitas ritual saja, tetapi mampu melatih dan membentuk jiwa yang sehat.

Tujuan puasa adalah agar mencapai taqwa. Hal ini sesuai firman Allah dalam Alquran QS. al-Baqarah 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. Hampir tiap tahun kita menjalankan puasa, tapi belum memahami hakikat taqwa dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan.

Taqwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Secara harfiah taqwa berasal dari kata waqaa, yaqii wiqaayah yang berarti memelihara menjaga dan lain sebagainya. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti: hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah. Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dilaksanakan oleh makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhiNya, sedangkan Dia bersama kamu dimanapun kamu berada. Oleh karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertaqwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui siksa Allah ada dua macam:

1.    Siksa didunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkanNya berlaku dialam raya ini. Misalnya: makan berlebihan dapat meninbulkan penyakit, tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan terhadap bencana, atau api panas dan membakar, dan hukum-hukum alam dan masyarakat lainnya.

2.    Siksa diakhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkanNya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT.

Atas dasar pemaparan tentang taqwa tersebut, takwa dapat diklasifikasikan. Pertama, menghindar dari sikap kufur dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah sejauh kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, menghindar dari segala aktifitas yang menjauhkan pikiran dari Allah. Inilah tingkatan upaya menghindar yang tertinggi. Wallahu A`lam bish Showab.

 

Marhaban Ya Ramadhan

 





Ngaji Ba'da Tarawih