HEADLINE
latest
berita
randomposts3
berita/block-1

MUSLIMAT NU

MUSLIMAT NU/block-5

GP ANSOR NU

GP ANSOR NU/block-6

FATAYAT NU

FATAYAT NU/block-6

IPNU

IPNU/block-6

IPPNU

IPPNU/block-6

PMII

PMII/block-6

PS PAGAR NUSA

PS PAGAR NUSA/block-6

ISNU

ISNU/block-6

PERGUNU

PERGUNU/block-6

SARBUMUSI

SARBUMUSI/block-8

JQH

JQH/block-8

LDNU

LDNU/block-5

LP MA’ARIF NU

LP MA’ARIF NU/block-2

RMINU

RMINU/block-2

LPNU

LPNU/block-2

LPPNU

LPPNU/block-2

LKKNU

LKKNU/block-2

LAKPESDAM NU

LAKPESDAM NU/block-2

LPBHNU

LPBHNU/block-5

LESBUMI NU

LESBUMI NU/block-2

LAZISNU

LAZISNU/block-2

LWPNU

LWPNU/block-2

LBMNU

LBMNU/block-2

LTMNU

LTMNU/block-2

LKNU

LKNU/block-2

LFNU

LFNU/block-2

LTNNU

LTNNU/block-2

LPBI NU

LPBI NU/block-2

LKQNU

LKQNU/block-2

LPKPNU

LPKPNU/block-5

Latest Articles

Tersensus 76.579 Warga NU Kudus : Kuatkan Konsolidasi PRNU, MWNU, PCNU untuk Khidmatun Lil Ummah

Dr. H. Kisbiyanto Sekretaris PCNU Kudus selaku Ketua Tim Sensus Warga NU Kabupaten Kudus melalui SISNU PWNU Jawa Tengah menjelaskan bahwa Sensus Warga NU ini ide cemerlang dari para Kiai dan Pengurus PWNU Jawa Tengah. Sensus Warga NU telah menguatkan konsolidasi Pengurus Ranting NU, Pengurus Majelis Wakil Cabang NU, dan Pengurus Cabang NU di Kabupaten Kudus. Sensus dengan media online juga selaras dengan perkembangan zaman yang serba digital dan virtual.

Memang pada awalnya, sambutan para warga hanya biasa-biasa saja karena dikira program ini hanya seperti pengadaan Kartu Tanda Anggota NU (KARTANU) beberapa tahun lalu, dimana fokusnya pada pembuatan KARTANU berbayar pada waktu itu.Namun, pada akhirnya dipahami bahwa Sensus Warga NU ini mempunyai sistem yang berbeda yaitu berbasis Sistem Informasi Strategis Nahdlatul Ulama (SISNU) PWNU Jawa Tengah sehingga data warga NU sebagai anggota resmi sangat terjamin keamanan dan pemeliharaannya, tidak acak-acakan dan asalan-asalan. Awalnya juga ada kendala karena sekitar 50% kepengurusan ranting NU di Kudus sedang habis masa khidmah, di era pandemi yang sedikit menghambat proses musyawarah ranting dan pelantikan, tetapi PCNU Kudus datang ke satu per satu ranting bersama MWCNU untuk memotivasi mereka. Alhamdulillah sampai akhir 2020, sudah banyak yang terbentuk kepengurusan baru lagi. 

Setelah Tim dari PWNU datang ke Kudus (22/08/2020), juga mendapat dukungan penuh KH. M. Ullil Albab Arwani Rois Syuriyah PCNU Kudus dan Drs. H. Asyrofi Masyitho Ketua Tanfidziyah beserta semua jajaran, kemudian Tim dari PCNU Kudus datang untuk sosialisasi ke MWCNU dan lebih-lebih ke Ranting-ranting NU, bertemu langsung dengan jajaran pengurus dan operator serta petugas Sensus, akhirnya semakin dipahami manfaat dan berkah ke depannya dari Sensus Warga NU ini. Disamping resmi menjadi anggota, warga yang tersensus akan dengan mudah mendapat layanan kapanpun, bahkan bisa melalui online. Pembuatan KARTANU bisa dilaksanakan kapan saja, isi data di KARTANU juga bisa disesuaikan dengan perkembangan terkini ketika ada perubahan identitas warga NU, sampai kemanfaatan asmaul mauta yang setiap Jumuat diumumkan oleh PWNU Jawa Tengah untuk mendapat kiriman doa. Tentu masih banyak kemanfaatan yang lain karena data anggota secara online di SISNU ke depan akan mempermudah layanan kejam'iyyahan maupun layanan fasilitas lainnya.

Sampai berita ini diterbitkan, warga NU Kudus yang sudah tersensus mencapai 76.579 anggota resmi dan terdaftar di SISNU, dan akan terus dilanjutkan. Rinciannya :

1. MWCNU Kec. Kaliwungu 15.219 anggota (19,8%)

2. MWCNU Kec. Undaan 12.531 anggota (16,3%)

3. MWCNU Kec. Jekulo 8.766 anggota (11,4%)

4. MWCNU Kec. Dawe 8.348 anggota (10,9%)

5. MWCNU Kec. Gebog 7.896 anggota (10,3%)

6. MWCNU Kec. Jati 6.618 anggota (8,6%)

7. MWCNU Kec. Kota 6.366 anggota (8,3%)

8. MWCNU Kec. Mejobo 5.971 anggota (7.7%)

9. MWCNU Kec. Bae 4.877 anggota (6,3%)

Terima kasih banyak kepada semua operator, petugas, pengurus PRNU, MWCNU, dan PCNU Kudus yang sudah berjibaku dengan data-data selama ini sampai akhir 2020. Awal tahun 2021 akan dilaksanakan evaluasi untuk melanjutkan strategi dan teknik yang lebih efisien dan efektif. Jazakumullahu khoiron katsiron amin. (ltn/ckh)

PCNU Kudus Ajak Terima Vaksinasi dan Tetap Jaga 3 M


Drs. H. Asyrofi Masyitho Ketua PCNU Kudus (Selasa, 12/01/2021) menekankan agar warga NU menerima dengan baik vaksinasi yang diprogramkan pemerintah RI, sebagai ketaatan pada ulama dan juga umaro. Aspek kesucian dan kehalalan vaksin sudah difatwakan oleh MUI dan aspek kethoyyiban vaksin sudah ditentukan oleh Badan POM, dua lembaga yang berwenang dan profesional dalam bidangnya. "Jadi kita mantap dan bersedia divaksin, semoga menjadikan warga NU dan masyarakat semua hidup dengan sehat dan bebas dari bahaya covid-19, amin" ajaknya.

"Selain itu, tata kehidupan baru berupa 3 M harus tetap dilaksanakan dengan baik, tetap memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak', imbuhnya. Warga NU adalah warga masyarakat yang terkenal patuh pada aturan pemerintah dan taat pada kiai dan ulamanya. Dengan dimulainya vaksinasi, maka Nahdlatul Ulama turut serta mensukseskan program tersebut, lebih-lebih untuk kepentingan kesehatan dan kemaslahatan masyarakat luas.

H. Asyrofi juga mohon "Khusus, kepada Pemkab Kudus, khususnya gugus tugas Covid-19, kami mohon perhatian agar para kiai, ulama, tokoh-tokoh masyarakat, dan profesional yang melayani publik untuk segera mendapatkan vaksinasi secara cepat, kemudian dilanjutkan untuk masyarakat luas sesuai kesiapan vaksinnya"(org/wsr) 

Dr. H. Kisbiyanto : Pembelajaran Online karena PPKM sesuai Maqashidussyari'ah

Dr. H. Kisbiyanto (Ahad, 10/01/2021) merespon kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk pengendalian penyebaran Covid-19, sejak 11 sampai 25 Januari 2021. Kisbiyanto yang juga Seketaris PCNU Kudus menegaskan bahwa dengan tingginya kasus positif dan apalagi yang meninggal, maka sudah sepantasnya pemberlakuan PPKM itu kita terima.. Dia menjelaskan alasan menerima PPKM, "Alasan pertama, bahwa maqashidus syari'ah di dalam agama Islam salah satunya adalah hifdlunnafsi. Syariat Islam harus menjamin keberlangsungan hidup manusia, termasuk mengantisipasi bahaya yang mengancam nyawa manusia. Ukuran keterancaman itu dibantu dengan data saintifik ilmu kesehatan dan kedokteran. Jadi, jika kasusnya memang tinggi dan para ahli di bidangnya menyatakan daerah rawan, maka orang Islam harus menjaga dan mengantisipasinya". Selanjutnya, "Alasan kedua, pembelajaran online memang tidak bisa efektif sebagaimana pembelajaran langsung di kelas, tetapi ini bersifat sementara dan demi keselamatan banyak nyawa manusia. Pembelajaran online juga tidak jelek-jelek amat, banyak juga positifnya, misalnya guru mendapatkan keseriusan untuk mengenal, menguasai, dan menerapkan ICT untuk mengajar. Anak-anak dan orang tua juga lebih melek teknologi, serta kesadaran baru di era revolusi industri 4.0. Masyarakat kita juga semakin cerdas yang menuju sebagai  Super Smart Society 5.0.Itu trend perkembangan zaman lho". 

Namun demikian, Kisbiyanto yang juga dosen di Program Pascasarjana IAIN Kudus mengajak kepada masyarakat untuk lebih bersabar. Ajaknya, "Wasta'inu bisshobri wassholati innaha lakabiratun illa 'alal khosyi'in, Gitu nasehat Allah dalam al-Quran, kan. Suasana krisis kesehatan ini benar-benar mengajarkan kita kesabaran untuk berdisiplin, misalnya 3M, 3T, dan juga banyak taqarrub pada Allah dengan memperbanyak doa-doa, shalat, dan ibadah lainnya". Ketika ditanya, bagaimana sikap kita agar tegar, dia menjawab, "alhamdulillah vaksinasi sudah dimulai, semoga kita semua segera tervaksinasi, dan kita optimis saja, keadaan akan kembali normal dan lebih baik, wallahul musta'an, gitu aja, " pungkasnya. (ltn/shr)

 

K.H. Hasyim Asy’ari, Sang Ulama Pemikir dan Pejuang

 



Judul Buku : K.H. Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri 

Pengarang : Ahmad Baso, K Ng H Agus Sunyoto, Rijal Mummaziq 

Penerbit          : Museum Kebangkitan Nasional 

ISBN : 978-602-61552-1-4

Tahun Terbit  : 2017 

Dimensi Buku  : 14,8 cm x 21,0 cm , 156 halaman


Buku ini merupakan buku hasil pemikiran Ahmad Baso dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU, Agus Sunyoto dari Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia Nahdlatul Ulama, dan Rijal Mummaziq dari STAI Al-Falah Assunniyyah. Buku yang diterbitkan oleh Museum Kebangkitan Nasional ini menyajikan informasi tentang pemikiran dan perjuangan sang Hadratusyeikh, Kyai Haji Hasyim Asy’ari. Didalam buku ini terdapat 4 bab. Buku ini menceritakan tentang tokoh pemikir dan pejuang, yang dianugrahi gelar Pahlawan Nasional, KH Hasyim Asy’ari. Beliau lahir pada tanggal 4 Robiulawwal 1292 H /10 April 1875, di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. KH Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kyai Asy’ari dan Nyai Halimah. Ayah Kyai Asy’ari merupakan putra dari Kyai Usman pengasuh Podok Pesantren Gedang yang terletak di Selatan Jombang.

Sedari kecil KH Hasyim Asy’ari diasuh dan dididik oleh ayah dan ibunya serta kakeknya. Sejak masa anak-anak, KH Hasyim Asy’ari kecil sudah memiliki kecerdasan yang lebih dibanding anak-anak sebayanya. Kecerdasannya sudah terlihat saat beliau berumur 13 tahun. Beliau membantu ayahnya untuk mengajar para santri-santri yang lebih besar darinya. Saat usianya berumur 15 tahun beliau meninggalkan kedua orangtuanya untuk mencari ilmu di pesantren-pesantren, antara lain Ponpes Wonokoyo di Probolinggo, Ponpes Langitan di Tuban, Ponpes Trenggilis di Semarang, Ponpes Kademangan di Bangkalan, dan Ponpes Siwalan di Sidoarjo.

Di Ponpes Siwalan KH Hasyim Asy’ari yang berusia 21 tahun menikah dengan putri Kyai Ya’kub, Nyai Chadidjah. Lalu, pada tahun 1899 KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantrennya sendiri Ponpes Tebuireng di Jombang. Kecerdasan dan keluasan ilmu yang dimiliki KH Hasyim Asy’ari, menjadikan pesantrennya didatangi para kyai muda dan santri-santri dari berbagai penjuru negeri untuk mencari ilmu pengetahuan. Sebagai ulama yang alim, KH Hasyim Asy’ari menulis sejumlah kitab dan catatan-catatan.

Dasawarsa awal abad ke-20 ditandai Kebangkitan Nasional yang menyebar kemanamana, sehingga muncul berbagai organisasi. Dimana dikalangan pesantren muncul pula organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916 dan Taswirul Afkar Tahun 1918. Setelah itu didirikan Nahdlatut Tujjar. Tak lama setelah itu KH Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah organisasi bernama Nahdlatul Ulama’.

KH Hasyim Asy’ari bukan hanya seorang kyai ataupun ulama, beliau juga seorang pejuang Nasional yang tangguh. Hal ini dibuktikan pada peristiwa Resolusi Jihad, beliau menetapkan hukum Fardlu A’in bagi umat Islam untuk membela tanah airnya yang diserang musuh dalam jarak 94 kilometer.

Pada peritiwa Resolusi Jihad tersebut KH Hasyim Asy’ari sempat ditahan dan disiksa oleh musuh, sehingga tulang jari-jari kanan beliau terluka. Disinilah perjuangan KH Hasyim Asy’ari dalam memperjuangkan tanah air nya. KH Hasyim Asy’ari telah berkontribusi besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Kontribusinya yang sangat besar adalah sebagai pendorong agar NKRI tetap terjaga dibawah dasar negara yang mengakui pluralitas.

Di dalam buku ini benar-benar di ceritakan secara rinci perjalanan hidup sang Hadratusyeikh, KH Hasyim Asy’ari. Mulai dari beliau kecil sampai beliau wafat. Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dipahami, kover buku yang mendukung juga membuat para pembaca pasti tertarik untuk membaca buku ini. Buku ini juga dilengkapi dengan gambargambar yang akan memudahkan pembaca untuk memahami isi buku.

Akan tetapi, di dalam buku ini juga terdapat kekurangan, yaitu ejaan kata yang salah dan alur buku yang sedikit membuat bingung para pembaca. Juga gambar yang tidak bewarna atau hitam putih.

Terlepas dari hal-hal tersebut, buku ini masih layak dibaca karena bisa menambah pengetahuan. Khususnya para remaja disarankan untuk membaca buku ini, karena banyak ilmuilmu yang akan didapat dari membaca buku ini.

Penulis Resensi: 

Radiva Ayudya Prameswari

MTs NU Banat Kudus


Menteri Agama RI

 



Gus Yaqut berkomitmen meningkatkan ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (Persaudaraan sesama bangsa Indonesia), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia). Ia juga menekankan akan meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan dan juga pesantren di lingkungan Kementerian Agama.

PC Fatayat NU Kabupaten Kudus sebagai Juara I Lomba Video Pendek





Selamat kepada Tim Film "Mbatil" PC Fatayat NU Kabupaten Kudus sebagai Juara I Lomba Video Pendek yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Jawa Tengah.



DIKLATSAR LPBINU

 


Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) PCNU Kudus yang dipimpin Dwi Syaifullah terus meningkatkan kapasitas dengan DIKLATSAR menambah relawan yang dikukuhkan oleh Ketua PCNU Kudus beberapa waktu lalu; mereka semangat tanpa pamrih dalan satu komando mengabdi pada masyarakat, khususnya di musim hujan yang cukup ekstrim, angin yang kencang, pohon-pohon tumbang, air sungai meluap, bahkan ada korban yang hanyut. 

Kegiatan tersebut dimulai tanggal 24 Oktober hingga 29 November 2020 di kawasan gunung Muria Kudus.

SEMANGAT DAN TETAP WASPADA MUSIM DAN IKLIM EKSTRIM. KITA DOAKAN PADA RELAWAN LPBINU LANCAR, SEHAT, DAN SELAMAT DALAM BERTUGAS. AMIN.


Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan

  

 


1.      Judul Resensi Buku : Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan”

2.      Data Buku

Judul Buku      : Syaikhona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama

Penulis             : RKH. Fuad Amin Imron

Editor              : Nico Ainul Yakin

Pengantar        : Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA

Penerbit           : “Khalista” Surabaya

Tahun terbit    : 2012

Tebal Halaman: xxviii + 228 halaman

Dimensi buku  : 14,5 x 21 cm

ISBN               : 978-979-1353-35-9

3.      Pembukaan Resensi

Buku yang berjudul Syaikhona Kholil Bangkalan penentu berdirinya Nahdhatul Ulama ini terdiri dari 6 bagian, dimana pada masing-masing bagian memberikan penjelasan yang sangat gamblang dan runtut. Mulai dari sejarah awal masuknya agama islam di Indonesia, proses berdirinya NU, sampai dengan rekam jejak perjuangan syaikhona Kholil Bangkalan dalam mendirikan NU bersama ulama-ulama lainnya. Buku ini merupakan satu dari sekian banyak buku tentang Ke-NU-an yang mengupas tuntas tentang tokoh yang berperan penting dalam pencetus dan pendiri organisasi Nahdhatul Ulama (NU). Buku yang ditulis oleh RKH. Fuad Amin Imron ini berbeda dengan buku sebelumnya yang hanya mengkisahkan secara singkat  peran Syaikhona Kholil Bangkalan dalam pendirian NU.

Dalam buku ini kita akan disuguhkan dengan kisah syaikhona kholil bangkalan secara detail dan fokus, mulai dari historis kelahiran, pendidikan, sampai dengan dakwah dan perjuangan beliau dalam proses pendirian NU. Yang tak kalah menarik dari buku ini adalah disuguhkan sejumlah cerita dan peristiwa bersejarah pada masa sebelum maupun sesudah syaikhona Kholil Bangkalan masih hidup, khususnya daerah Madura. Diuraikan pula tentang kebangkitan ulama pesantren serta cerita masyarakat yang menghiasi cerita panjang syaikhona kholil Bangkalan dalam pengabdian besarnya kepada agama islam terutama kepada organisasi terbesar di negeri ini, yakni Nahdhlatul Ulama.

4.      Isi Resensi Buku

Buku ini mencoba untuk mengungkapkan secara mendalam keterlibatan Syaikhona kholil Bangkalan dalam proses pendirian jam’iyah NU. Buku ini merupakan karya pertama yang ditulis oleh beliau RKH. Fuad Amin Imron yang merupakan cicit Syaikhona Kholil Bangkalan sekaligus menjabat sebagai bupati Bangkalan periode 2003-2013. Dalam menulis dan menguraikan penjelasan tiap bab nya, kiai Fuad seakan ingin mengajak para pembacanya melihat kembali sejarah masa lalu yang luarbiasa yang pernah kita miliki. Beliau menaruh harapan yang besar kepada para pemuda sebagai generasi penerus bangsa supaya memiliki semangat juang yang tinggi dalam memajukan dan melestarikan kebudayaan islam melalui seorang figur ulama yang sangat patut kita teladani. Diuraikan pula kepribadian dan daya juangnya yang tinggi untuk agama.

Dalam pembahasannya, buku ini banyak membahas tentang keterlibatan Syaikhona Kholil Bangkalan dalam proses pendirian organisasi yang mewadahi para ulama pesantren dan umat islam Indonesia. Secara rinci, buku ini diawali dengan pembahasan mengenai sejarah masuknya Islam di Indonesia serta penyebarannya di nusantara melalui para wali, khususnya oleh para wali songo. Salah satu wilayah yang cukup pesat penyebarannya adalah daerah Madura. Keteguhan masyarakat Madura memegang  teguh  tradisi keislaman tidak bisa dilepaskan tentang legenda soal Madura, aktivitas, serta keberagaman masyarakat Madura.

Yang menarik dari buku ini adalah kita seolah dibawa ke masa lalu yang menceritakan kebangkitan para ulama pesantren di awal abad ke-19 M, dimana keadaan saat itu bangsa Indonesia masih berjuang melawan cengkraman bangsa penjajah. Sebelum adanya kebangkitan para ulama ini, bangsa Indonesia masih lemah dan belum memiliki semangat juang dan semangat cinta tanah air. Masyarakat pribumi hanya tunduk pada aturan kolonial Belanda karena belum memiliki wadah yang dapat menyatukan semangat melawan bangsa penjajah. Beberapa tokoh ulama yang menjadi garda terdepan dalam membangkitkan semangat perjuangan tersebut antara lain Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang), Kiai Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Abdul Karim (Kediri), Kiai Ma’sum (Lasem), Kiai Cholil Harun (Rembang), dan sebagainya. Beliau merupakan ulama angkatan pertama dikalangan NU sekaligus menjadi pelopor dalam pendirian sebuah organisasi (jam’iyah) bernama Nahdlatul Ulama.

Para ulama tersebut diatas semuanya pernah belajar dengan ulama legendaris dari Madura yaitu Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif atau yang terkenal dengan sebutan Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau adalah ulama yang terkenal karena kedalaman ilmunya agamanya, dapat berpikir jernih, visioner dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat sehingga beliau menjadi kiblat (episentrum) bagi para ulama dan pengasuh pesantren dalam pengembangan dan penyiaran agama islam. Beliau bukan hanya seorang ulama yang menguasai teks ilmu agama, namun juga mampu mengkontekstualisasikan keilmuannya dalam kehidupan nyata. Beliau juga bukan hanya seorang wali Allah yang mengisolasi kehidupan pribadinya secara eksklusif, tetapi mampu memberikan motivasi dan solusi atas problematika yang dihadapi masyarakat.

Di dalam buku ini akan dibahas tuntas mengenai kisah tentang Syaikhona Kholil Bangkalan mulai dari historis kelahirannya, perjalanan pendidikan, karya-karya hebatnya sampai dengan rekam jejak perjuangan beliau dengan ulama-ulama lain dalam mendirikan organisasi NU sebagai wadah organisasi dan sebagai instrumen untuk membentengi masyarakat dari upaya penyeragaman agama oleh Belanda masa itu, dan upaya membebaskan masyarakat dari cengkraman bangsa penjajah, serta upaya memproteksi umat islam dari paham wahabiyah yang digerakkan penguasa Arab saat itu. Ketika membaca dan memahami buku yang berjudul “Syaikhona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama” ini, kita akan mendapatkan nilai-nilai keteladanan yang amat sangat berharga, terutama untuk para pelajar dan mahasiswa agar selalu semangat dalam mencari ilmu seperti yang telah dicontohkan beliau Syaikhona Kholil Bangkalan.  

5.      Penutup Resensi

Buku karya RKH. Fuad Amin Imron ini menurut saya sangat layak dibaca, terutama oleh kaum muda generasi Nahdliyyin, karena didalamnya dikupas secara tuntas dan rinci perjalanan hidup Syaikhona Kholil Bangkalan sampai dengan sejarah dan cikal bakal berdirinya NU. Adapun kelebihan dan kekurangan dari buku yang berjudul “Syaikhona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama” ini akan saya ulas sebagai berikut :

a.      Kelebihan Buku

1)      Dalam buku ini diuraikan secara runtut, mulai dari masuknya islam ke Nusantara, masa penjajahan sampai dengan adanya kebangkitan para ulama pesantren, sehingga pembaca tidak merasa kebingungan ketika memahami ulasan demi ulasan dari buku ini.

2)      Buku ini merupakan satu dari banyaknya buku yang membahas tentang Syaikhonan Kholil Bangkalan.Namun yang membedakan adalah buku ini ditulis dengan versi fokus pada kisah simbolik Syaikhona Kholil Bangkalan

3)      Di bagian ke-2, terdapat ulasan mengenai sejarah wilayah Madura yang merupakan asal beliau Syaikhona Kholil Bangkalan. Kita disuguhkan dengan cerita Bangkalan tempo dulu dan sekarang, sehingga pembaca akan lebih puas dalam memahami buku ini.

4)      Di dalam salah satu bab di buku ini, disuguhkan beberapa gambar maupun simbol yang mempermudah pembaca memahami dan memiliki gambaran tentang isi buku. Gambar dan simbol tersebut antara lain : bagan silsilah keturunan Syikhona Kholil Bangkalan, guru-guru syaikhona dan para ulama, serta peninggalan dan karya syaikhona Kholil Bangkalan juga ada di dalam buku ini.

5)      Di akhir buku disertakan juga lampiran-lampiran penting yang semakin melengkapi isi buku ini.

b.      Sedangkan kelemahan dari buku ini menurut saya yaitu :

1)   Gambar yang disertakan dalam buku ini berwarna hitam putih, sehingga beberapa gambar ada yang terlihat sedikit buram.

2)   Desain foto para ulama di bagian cover depan tidak begitu terlihat jelas, sehingga kurang menarik untuk kalangan tertentu.

Terlepas dari itu semua, buku ini sangat bermanfaat untuk kita baca supaya kita khususnya para generasi nahdliyyin mengenal lebih jauh sosok inspiratif yang luarbiasa sebagai kunci berdirinya organisasi besar bernama Nahdlatul Ulama. Selamat membaca! 

Penulis Resensi :

Asabah Nurul Hikmah, Santri Pondok Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah Kudus­ asal Blora.