Lakpesdam PWNU Jateng dan UIN Sunan Kudus Gelar Muktamar Ilmu Pengetahuan IV, Dorong Kemandirian Ekonomi dan Organisasi
KUDUS (LTNNU ) – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus sukses menyelenggarakan Muktamar Ilmu Pengetahuan IV pada Sabtu (27/06/2026).
Bertempat di Ruang Theater Lantai 3 Gedung Laboratorium UIN Sunan Kudus, acara ini dimulai tepat pukul 13.00 WIB. Pertemuan ilmiah ini secara khusus menghadirkan Sesi Pendukung 1 (Panel 1) yang berfokus pada strategi taktis dan tahapan bagi kemandirian Jam'iyyah Nahdlatul Ulama di wilayah Jawa Tengah.
Acara yang dipandu oleh Dr. Umi Arifah dari Lakpesdam PWNU Jateng ini mengusung tema besar “Membangun Kemandirian Organisasi dan Memperkuat Konsolidasi Gerakan: Strategi dan Tahapan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah”. Forum strategis ini dihadiri oleh jajaran penting struktur NU, yang meliputi unsur PWNU Jateng, Syuriah PCNU se-Jateng, Ketua Tanfidziyah PCNU se-Jateng, serta perwakilan lembaga dan badan otonom (Banom) dari tingkat wilayah hingga tingkat cabang, khususnya dari Kudus, Pati, Jepara, dan Demak.
Salah satu topik krusial yang dibahas dalam panel tersebut adalah program pemberdayaan ekonomi petani Nahdliyyin melalui pengembangan pertanian organik. Melalui skema terintegrasi yang melibatkan kerja sama antara pemerintah, NGO, dan Koperasi Serba Usaha Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (KSU-LPNU), organisasi berkomitmen memfasilitasi seluruh kebutuhan petani dari hulu ke hilir.
Upaya ini dirancang untuk memberikan nilai tambah ekonomi langsung berupa harga yang adil bagi petani, sekaligus nilai tidak langsung melalui Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi.
Selain sektor agraria, muktamar ini juga menyoroti pentingnya konsolidasi internal demi membangunkan potensi raksasa NU yang selama ini diibaratkan sebagai “Giant Sleeping” atau raksasa yang tertidur pulas.
Melalui pemaparan data survei keorganisasian, para narasumber yang terdiri dari akademisi dan praktisi NU—seperti Dr. H. Sriyanto, M.Pd., Prof. H. Wahibur Rohman, Ph.D., dan Ah Maftuchan, M.Si.—menekankan perlunya optimalisasi kinerja pengurus di tingkat MWC hingga ranting. Langkah nyata ini diambil agar kekuatan kultural warga NU yang besar dapat bertransformasi menjadi kekuatan struktural yang solid, mandiri, dan bermartabat demi membangun peradaban.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.