HEADLINE
latest

Dari Kultural ke Struktural: Menakar Arah Baru Tata Kelola Organisasi Nahdlatul Ulama di Muktamar Ilmu Pengetahuan

 Dari Kultural ke Struktural: Menakar Arah Baru Tata Kelola Organisasi Nahdlatul Ulama di Muktamar Ilmu Pengetahuan

KUDUS (LTNNU) – Dalam rangka merespons dinamika zaman dan memperkuat kontribusi nyata di tengah masyarakat, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus menggelar Muktamar Ilmu Pengetahuan IV. Salah satu agenda krusial dalam rangkaian acara tersebut adalah Sesi Pendukung 2 berupa diskusi panel bertajuk "Nahdlatul Ulama dan Transformasi Sosial: Dari Khidmah Kultural Menuju Perubahan Struktural"( Sabtu 27 Juni 2026).

Acara yang bertempat di Aula Lantai 4 Gedung Perpustakaan UIN Sunan Kudus ini dihadiri oleh unsur PWNU Jateng, Sekretaris PCNU se-Jateng, serta jajaran pengurus Lakpesdam dari berbagai kabupaten seperti Kudus, Pati, Demak, dan Jepara.

Diskusi panel ini menghadirkan jajaran pakar dan akademisi terkemuka sebagai narasumber, di antaranya Dr. Mustaghfiroh Rahayu, MA.; Sunaji Zamroni (Koordinator Pusat Studi UNU Yogyakarta); Prof. Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. (Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNU Yogyakarta); Dr. Nur Kafid, S.Th.I., M.Sc.; dan Prof. Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd.(Wakil Rektor III UIN Sunan Kudus) Dipandu oleh Khabib Sholihin dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah sebagai moderator.

Forum ilmiah ini secara mendalam membedah esensi transformasi NU agar tidak sekadar terjebak pada mitos perubahan hierarki, pembaruan administratif, atau digitalisasi dokumen semata. Sebaliknya, transformasi nyata harus menyentuh pergeseran fundamental pada tata kelola organisasi, budaya "servant leadership", serta eksekusi program yang berorientasi langsung pada dampak kesejahteraan jamaah.

Dalam pemaparannya, Sunaji Zamroni menekankan pentingnya menyambungkan transformasi organisasi NU dengan kebutuhan riil di tingkat akar rumput. Guna mewujudkan hal tersebut, dirumuskan empat pilar formulasi transformasi NU yang meliputi penguatan basis data sosial warga untuk membantu khidmah kiai agar lebih presisi, konsolidasi ekosistem (pesantren, madrasah, PTNU, LAZISNU, hingga badan otonom), pembentukan kader penghubung yang responsif terhadap kebijakan publik, serta penyediaan Forum Kebijakan Nahdliyin. 

Seluruh langkah strategis ini diukur menggunakan instrumen "Maqoshid Syariah" sebagai standar kesejahteraan, yang mencakup perlindungan agama, jiwa (akses kesehatan dan pangan), akal (mutu pendidikan dan riset), keturunan (perlindungan perempuan dan anak), serta harta (akses modal UMKM dan tata kelola zakat-wakaf).

Sementara itu, dari perspektif akademis, Prof. Nafiatul Umami menggarisbawahi peran strategis perguruan tinggi dan ilmuwan sebagai agen perubahan dan motor inovasi melalui diseminasi ilmu yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Beliau memaparkan bahwa perubahan yang bermanfaat bagi umat harus memenuhi "3 Lensa Kebijakan" sebagai syarat mutlak, yaitu "Scientific Knowledge" (bukti ilmiah dan data riset), "Practical Knowledge" (pengalaman pengurus, pesantren, dan kearifan lokal yang aplikatif di lapangan), serta "Political Knowledge" (dukungan organisasi, legitimasi kultur politik, dan regulasi). 

Melalui integrasi ketiga lensa ini, diharapkan terjadi transformasi efektif yang tepat arah, adaptif, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan riil "piring makan" jamaah.

« PREV
NEXT »

Facebook Comments APPID