Kudus – Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan perannya sebagai kekuatan moral dunia. Dari forum Halalbihalal PCNU Kudus hingga panggung diplomasi internasional, NU menyuarakan pesan tegas: perang harus dihentikan, dan peradaban harus dibangun di atas nilai kemanusiaan, (Rabu 1 April 2026).
Dalam momentum Halalbihalal, Ketua PCNU Kudus, Drs. HM. Asyrofi Masyito, menekankan pentingnya menjaga soliditas organisasi sebagai fondasi utama gerakan. Menurutnya, semangat saling memaafkan harus dilanjutkan dengan penguatan khidmah demi mewujudkan khoira ummah.
“Soliditas adalah kekuatan. Dari sinilah NU bisa terus hadir memberi manfaat, tidak hanya untuk umat, tetapi juga untuk bangsa dan dunia,” tegasnya.
Pesan ini sejalan dengan pandangan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh, yang mengingatkan agar NU tidak abai terhadap isu-isu strategis, termasuk krisis lingkungan dan tantangan peradaban global. Ia menekankan pentingnya gerakan berbasis akar rumput seperti santri tani sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan.
Sementara itu, KH M. Ulil Albab Arwani mengajak warga NU untuk terus menghidupkan tradisi keagamaan di masjid, pesantren, dan musholla, termasuk kegiatan lailatul ijtima’, sebagai pusat penguatan spiritual dan sosial.
Menurut Dr. H. Nur Said, M.A., M.Ag., Sekretaris PCNU Kudus, acara ini digelar sederhana dengan mengundang jajaran PCNU Kudus, Pengurus Lembaga, Banom dan jajaran Pengurus MWCNU se-Kabupaten Kudus karena keterbatasan ruang. Namun meskipun sederhana diharapkan mampu memberikan pesan dari Kudus mulai dari isu-isu lokal hingga perdamaian dunia.
Dari Kudus ke Diplomasi Global
Apa yang menguat di tingkat lokal ini ternyata selaras dengan langkah strategis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di tingkat internasional. Dalam beberapa waktu terakhir, PBNU aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak global, termasuk perwakilan Amerika Serikat, Iran, dan Arab Saudi.
NU menyampaikan aspirasi tegas agar konflik global segera dihentikan. Eskalasi perang dinilai telah melampaui batas kemanusiaan, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan negara-negara konflik, tetapi juga merembet ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Krisis kemanusiaan, instabilitas ekonomi, hingga ancaman terhadap ketahanan global menjadi alasan kuat mengapa NU mengambil peran aktif dalam diplomasi perdamaian.
Jejak Spirit Al-Quds dalam Sejarah Kudus
Menariknya, seruan global dari Kudus ini memiliki akar historis yang mendalam. Nama Kudus diyakini memiliki keterkaitan simbolik dengan Al-Quds atau Baitul Maqdis di Palestina—kota suci yang menjadi pusat spiritual dunia.
Jejak ini diperkuat oleh kiprah Sunan Kudus, yang dikenal dengan pendekatan dakwah kultural dan penuh kedamaian. Melalui metode yang kini dapat disebut sebagai spiritual healing, Sunan Kudus mengajarkan Islam dengan pendekatan yang merangkul budaya lokal, menciptakan harmoni tanpa konflik.
Warisan ini menjadikan Kudus bukan sekadar kota, tetapi simbol peradaban damai—miniatur nilai Al-Quds dalam konteks Nusantara.
Menyatukan Lokal dan Global
Dari penguatan tradisi di tingkat akar rumput hingga diplomasi global, NU menunjukkan bahwa kekuatan besar lahir dari fondasi yang kokoh. Soliditas organisasi, kesadaran ekologis, dan penguatan spiritual menjadi energi yang mendorong NU tampil di panggung dunia.
Seruan perdamaian yang disampaikan NU bukan sekadar wacana, tetapi cerminan dari nilai yang telah lama hidup dalam tradisi Islam Nusantara.
Di tengah dunia yang dilanda konflik, NU hadir membawa pesan yang jernih: kemanusiaan harus menjadi prioritas utama.
Dari Kudus-yang mewarisi spirit Al-Quds-hingga forum internasional, NU menegaskan komitmennya untuk terus menjadi penjaga perdamaian dan peradaban.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.