HEADLINE
latest

Baitul Muqaddas Kudus Menyapa Baitul Maqdis Palestina: Simbol Nama, Panggilan Nurani Umat

 

Kudus — Dari sebuah ruang ibadah di kota yang sarat sejarah Islam Nusantara, gema doa kembali mengalun melampaui batas geografis dan politik global. Di Masjid Baitul Muqaddas Kudus, pelantikan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Tenggeles, Mejobo, Jumat (10/04/2026), tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga ruang spiritual yang menghubungkan Kudus dengan Baitul Maqdis di Palestina.

Di tengah dinamika konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina, doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan warga Gaza serta perdamaian di Tanah Suci. Suasana khidmat mengiringi rangkaian acara yang dihadiri tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama Kudus.

Acara dipimpin oleh Wakil Katib Syuriah PCNU Kudus, Dr. KH. Sofiyan Hadi, Lc., MA. yang juga membaiat dan melantik jajaran pengurus ranting. Hadir pula Ketua PCNU Kudus H. Fajar Nugroho, S.Pt.  serta Sekretaris PCNU Kudus Dr. H. Nur Said, S.Ag., MA., M.Ag.  yang menegaskan pentingnya kesadaran kemanusiaan global berbasis nilai-nilai keislaman. Hadir juga memimpin prosesi acara pelantikan  Ali Imron, M.Pd, Wakil Sekretaris PCNU Kudus sehingga acara berjalan lancar.

Dalam keterangannya, Sekretaris PCNU Kudus, Nur Said menegaskan bahwa perhatian terhadap Palestina bukan sekadar isu geopolitik, melainkan bagian dari panggilan moral dan keadilan universal dalam Islam.

“Perhatian terhadap kemerdekaan Palestina penting bukan hanya karena prinsip hak asasi manusia, tetapi juga karena nilai keadilan dalam Islam yang menolak segala bentuk penjajahan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa relasi historis dan kultural antara Kudus dan Al-Quds memiliki akar yang kuat sejak era Sunan Kudus. Spirit keterhubungan itu terus berlanjut dalam sejarah kebangsaan Indonesia, termasuk pada masa Soekarno hingga Abdurrahman Wahid bahkan hingga Presedian berikutnya hingga sekarang era Presiden Prabowo Subiyanto. 

 

Menurutnya, penyebutan “Baitul Muqaddas” pada masjid di Kudus bukan sekadar penamaan simbolik, melainkan refleksi keterhubungan batin antara masyarakat Kudus dengan pusat spiritual umat Islam di Yerusalem.

Doa yang diawali dengan tahlil oleh Abdurrahman tersebut menjadi penutup rangkaian acara yang sarat makna spiritual dan solidaritas kemanusiaan.

Doa puncak dipanjatkan oleh Sofiyan Hadi yang memimpin langsung permohonan untuk kedamaian Baitul Maqdis di Palestina. Suasana haru menyelimuti jamaah saat doa dipanjatkan untuk keselamatan, kemenangan, dan kedamaian umat Islam di wilayah konflik.

Momentum ini menegaskan bahwa dari ruang-ruang lokal seperti Masjid Baitul Muqaddas Kudus, kesadaran global dapat tumbuh dan menguat. Bahwa penderitaan di Palestina bukan hanya isu jauh di Timur Tengah, tetapi juga panggilan nurani yang dirasakan hingga ke akar rumput di Nusantara.

Di tengah dunia yang kerap terfragmentasi oleh batas politik, suara dari Kudus menghadirkan pesan sederhana namun dalam: bahwa satu nama dapat menjadi jembatan makna, dan satu doa dapat menghubungkan desa dengan dunia—dari Kudus menuju Baitul Maqdis, dari lokal menuju kemanusiaan global. 

NEXT »

Facebook Comments APPID