Bagi Menteri Agama, transformasi UIN Sunan Kudus tidak boleh berhenti pada perubahan status kelembagaan, pembangunan sarana prasarana, maupun pencapaian ranking akademik. UIN Sunan Kudus harus berani menemukan karakter dan keunggulan yang khas, bahkan menciptakan suatu keadaan yang belum memiliki ukuran baku di dunia.
“Kita harus berani bermimpi besar dan berani berpikir lain. Bagaimana menciptakan suatu kampus yang bukan hanya meng-install pikiran-pikiran rasional, tetapi juga meng-install kualitas batin yang mampu mencerahkan dan meneduhkan,” tegas Menteri Agama.
Menurutnya, perguruan tinggi Islam memiliki peluang besar untuk menghadirkan model pendidikan yang khas. Karena itu, UIN Sunan Kudus didorong tidak sekadar berkiblat atau mengejar ketertinggalan dari kampus lain, tetapi berani menjadi pelopor dengan menciptakan karakter dan keunggulan yang lahir dari kekuatan serta jati dirinya sendiri.
“Jadilah kampus yang pertama. Jangan hanya berkiblat pada kampus lain,” pesannya.
Kudus sebagai Daerah Supraterestrial
Harapan besar tersebut bertaut dengan gagasan Menteri Agama mengenai Kudus sebagai daerah supraterestrial. Kudus tidak hanya dipahami sebagai wilayah geografis, tetapi sebagai ruang yang memiliki dimensi spiritual dan peradaban yang melampaui batas-batas terestrial.
Gagasan tersebut memiliki resonansi dengan Al-Quds, khususnya Masjidil Aqsha yang disebut dalam QS Al-Isra’ ayat 1 melalui ungkapan “alladzī bāraknā ḥaulahu”—“yang Kami berkahi sekelilingnya.” Dalam konteks Nusantara, kekhasan tersebut menemukan pijakannya pada warisan Sunan Kudus, yang menunjukkan bagaimana Islam dapat tumbuh melalui kearifan, penghormatan terhadap keragaman, dan dialog dengan kebudayaan lokal.
Karena itu, kekayaan sejarah dan spiritual Kudus dapat menjadi modal peradaban bagi UIN Sunan Kudus untuk membangun keunggulan yang tidak sekadar mengikuti standar perguruan tinggi lain.
NU Diharapkan Memberikan Spiritual Backup
Dalam mewujudkan impian tersebut, Menteri Agama berharap NU memberikan spiritual backup bagi UIN Sunan Kudus. Dukungan ini menjadi penting agar transformasi akademik dan kelembagaan UIN tetap memiliki akar spiritual, kultural, dan peradaban yang kuat.
NU memiliki ekosistem keulamaan, pesantren, pendidikan, dakwah, dan kebudayaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Di Kudus, ekosistem tersebut juga memiliki hubungan historis yang erat dengan warisan dakwah Sunan Kudus.
Karena itu, sinergi NU dan UIN Sunan Kudus diharapkan dapat mempertemukan kekuatan spiritual dan kekuatan intelektual. NU memberikan spiritual backup, sementara UIN Sunan Kudus mengartikulasikan warisan tersebut melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam kerangka itu, Sunan Kudus menjadi civilizational legacy, NU menjadi sumber spiritual backup, dan UIN Sunan Kudus menjadi intellectual hub yang mentransformasikan warisan tersebut menjadi kontribusi bagi peradaban dunia.
Cita-cita Center of Supraterrestrial pun tidak sekadar dimaknai sebagai ambisi menjadi kampus berkelas dunia, tetapi sebagai ikhtiar menghadirkan pusat keilmuan yang mempertemukan rasionalitas dan spiritualitas, ilmu dan kualitas batin, lokalitas dan universalitas, serta agama dan peradaban.
Menteri Agama juga menegaskan bahwa UIN tidak semestinya hanya mengejar ranking dan standar formal.
“UIN itu jangan hanya mengejar ranking dan standar formal, tetapi create suatu keadaan yang mungkin belum ada kriterianya di dunia. Justru di situlah kampus bisa menemukan keunggulannya sendiri,” ujarnya.
UIN Sunan Kudus sebagai “Super Treasure”
Kehadiran Menteri Agama bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof. Dr. Kamaruddin Amin, M.A. dalam launching UIN Sunan Kudus menjadi bentuk perhatian dan penghargaan khusus Kementerian Agama terhadap kampus yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam.
“Kami datang bersama Pak Sekjen. Ini merupakan suatu bentuk penghargaan. Ada alasan mengapa tempat ini kami anggap sebagai sesuatu yang sangat berharga, sebagai super treasure,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyapa mahasiswa baru, dilanjutkan dengan peresmian Gedung Kuliah Terpadu dan Laboratorium Terpadu UIN Sunan Kudus. Peresmian tersebut menjadi bagian dari penguatan sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Usai peresmian gedung, Menteri Agama bersama jajaran melakukan penanaman pohon sebagai implementasi ekoteologi. Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen UIN Sunan Kudus dalam mengintegrasikan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, sekaligus selaras dengan Asta Protas Kementerian Agama.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kudus Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, M.A. menyampaikan perjalanan panjang institusi sejak awal berdiri hingga bertransformasi menjadi UIN Sunan Kudus. Ia juga memaparkan berbagai capaian di bidang akademik, kelembagaan, penelitian, publikasi ilmiah, pengembangan sumber daya manusia, serta sarana prasarana.
Transformasi menjadi UIN Sunan Kudus, menurut Rektor, bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan mandat untuk menghadirkan pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan integratif.
Momentum launching tersebut diharapkan menjadi titik awal lahirnya peradaban akademik baru yang memadukan keilmuan, inovasi, spiritualitas, ekoteologi, dan kearifan lokal yang diwariskan Sunan Kudus.
Dengan demikian, launching UIN Sunan Kudus membawa sebuah visi besar: Kudus memiliki kekayaan spiritual, NU memberikan spiritual backup, Sunan Kudus menghadirkan warisan peradaban, dan UIN Sunan Kudus mentransformasikannya menjadi kekuatan intelektual untuk dunia. Dari Al-Quds ke Kudus, dari spirit Sunan Kudus menuju dunia; dengan spiritual backup NU, UIN Sunan Kudus diarahkan menjadi Center of Supraterrestrial Civilization.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.