HEADLINE
latest

Sepenggal Do’a Dibalik Salah Kostum



STORY whatsapp saya tiba-tiba saja ramai dengan gambar Plt Bupati Hartopo yang bersalaman dengan Ketua ANSOR Kudus HM Sarmanto. keduanya mengenakan baju batik NU. Banyak makna yang tersirat. Penafsiran publik pun jadi macam-macam. 
Kemarin (29/7), saya juga berkesempatan menghadiri musyawarah kerja cabang NU Kudus di sebuah hotel di Kota Kretek, Kudus, itu. Berangkatnya dari Kota Mina Tani. Itu pun setelah menyelesaikan kerjaan harian mengedit halaman koran tempat saya bekerja. 
Sesampai di lokasi saya nggak pede. Semua peserta muscab yang hadir mengenakan baju motif batik NU lengan panjang. Warna hijau. Berpeci dan bersarung. Saya yang sepulang kerja memakai celana jins, kemeja lengan panjang. Warna biru langit. Bersepatu booth cokelat. 
Saya nyaris mau pulang saja. Tapi Saya segera mengurungkannya. Toh niat saya memang agar deket dengan para kiai. Ngalap baraokahe sesepuh NU. Dua orang teman wartawan yang berdiri dibelakangku memanggil. Lalu mengajak ngobrol. Saya pun larut. Biar dikira pewarta yang ngeliput acara warga Nahdliyin ini. Sebenarnya sih, mengantisipasi rasa malu akibat salah kostum. Wkwkwk…
Keberadaanku pun segera terdeteksi Ketua Lembaga Taklif wa Nasyr (LTN), Pak Fatah. Saya pun dengan kikuk duduk di sebelahnya. Di belakang meja bundar. Di atas meja sudah terhampar potongan brownies, secangkir kopi dan segelas air tawar. 
Kehadiran saya juga rupanya terdeteksi Pak Kisbiyanto. Pemimpin forum muscab malam itu. Ia duduk di depan. Di sebelahnya rawuh KH Maksum AK, KH Ulil Albab, H Asyrofi dan lainnya. Saya sempat disebut setelah membaca program-program LTN. Disebut sebagai orang berkapasitas dan memiliki jaringan. 
Bukannya saya bangga. Justru malu disebut-sebut seperti itu. Karena selama ini tak banyak berkonstribusi terhadap organisasi NU tercinta ini. Karena selama ini memang kerap tidak aktif. 
Saya memang direkrut menjadi anggotanya Pak Fatah. Saya kira dia (Pak Fatah) memang the right man. Dia dosen perguruan tinggi besar di kota ini. Kegiatannya di kampus juga banyak bersinggungan dengan dunia jurnal, perpustakaan hingga penerbitan. Dan tentu saja pengajaran. 
Hanya saya mungkin the wrong man. Rekam jejak saya kurang baik. Saya pernah menjadi pengelola website nukudus.com pada periode kepemimpinan Ketua Tanfidiyah KH Chusnan. Belum habis periode beliau, website sudah tidak beroperasi. Bukan karena tidak ada yang garap. Meski setidaknya ada dua orang yang masih komitmen untuk mengisi kontennya. Waktu itu. Tapi webhosting yang habis. Tidak terurus. Berlarut-larut. 
Berita-berita pun banyak yang tak ter-upload. Pernah memaksa upload. Tampilannya jadi tak karuan. Web yang sudah memiliki ribuan pembaca itu pun wassalam. Saya membayangkan bila web itu masih ada. Mungkin sudah legend. Heheheh.. 
Ini sudah saya ceritakan ke Pak Fatah. Dua kali, bahkan. ”Saya trauma Pak. Semoga ini jadi pelajaran. Kita niati istiqomah,” kataku suatu kali ke pria yang tiap hari berprofesi menjadi dosen itu.
Dia pun mengangguk dengar cerita saya. Seakan mengerti. Saya pun berdoa dari hati agar ikhtiar melahirkan media dari rahim NU Kudus ini akan tahan lama. Tahan puluhan tahun? Sebisa mungkin selama-lamanya. Utopis? Biarlah. Berdo’a kan boleh, wong, Gusti Allah yang kita minta Maha Kaya. Maha Segala-galanya. 
”Mangke alon-alon mawon Pak, sing penting istikomah nggih. (Nanti jalan pelan-pelan Pak. Yang paling penting istikomah),” kataku menimpali. 
Memang ini penting untuk selalu saya dengungkan. Biar tidak berjalan demenyar (demene nek anyar). Belajar dari kelompok sebelah yang menempatkan media menjadi bagian penting dari proses dakwah. 
Dengan modal trauma masa lalu saya berkolaborasi dengan kepribadian yang terbiasa rapi, konsisten model Pak Fatah, semoga media warga NU Kudus ini berjalan istikomah. Amin. (*)
« PREV
NEXT »

Facebook Comments APPID